Jumat, 03 Juni 2016

KENAPA RILISAN FISIK ITU PENTING ?

Kenapa rilisan fisik itu penting dan tak tergantikan?

Sama seperti industri lain, persaingan di industri musik juga kompetitif. Barometer keberhasilan seorang musisi emang banyak. Entah itu fans, jadwal manggung atau penjualan album yang laris. Nah, yang disebut terakhir ini adalah salah satu tolak ukur yang biasa dipakai untuk mengukur keberhasilan seorang musisi. Industri musik jaman sekarang jauh berbeda dengan dekade lalu. Seiring dengan berubahnya cara pendengar dalam menikmati musik, dari format fisik ke digital, dan ini bikin penjualan rilisan fisik mengalami penurunan yang signifikan. Tapi kenapa sih, kita sebaiknya membeli rilisan fisik?
mana rilisan favoritmu?
mana rilisan favoritmu?. foto: deathrockstar
Kita runut dari awal ya…
Dulu kalau mau rekaman, harus pakai pita dua inch, biayanya mahal, dan juga harus beli lebih dari satu set kalau bikin album. Pada saat yang bersamaan dengan krisis moneter (krismon), industri musik berevolusi. Krismon bikin biaya produksi lagu jadi sangat mahal, banyak orang pindah dari analog ke digital yang waktu itu memang sudah ada. Pergeseran ini memotong biaya produksi rekaman sekian puluh persen. Di sisi lain juga memunculkan ilusi bahwa peluang buat musisi baru semakin besar. Dari sini, musisi muda Indonesia (banyak diantaranya berasal dari skena musik bawah tanah) semakin berkembang dan menghasilkan banyak band berkualitas dari beragam genre. Semua orang akhirnya punya akses ke produksi, macam mendapat angin segar. Pada saat itu, orang-orang mulai berani bikin label baru, label alternatif, yang pada awalnya dipelopori skena metal dan hardcore punk.
no copy-paste. foto: peachforkstudios.com
no copy-paste. foto: peachforkstudios.com
Hal ini diikuti dengan muncul dan merebaknya akses ke internet, musisi Indonesia yang udah mulai dapat akses ke teknologi produksi, lalu menemukan alternatif baru untuk mensiasati distribusi. Imbasnya besar. Musik dengan berbagai jenis kemudian mulai menemukan pendengarnya masing-masing. Tapi ternyata dibalik terbukanya pintu baru ini muncul masalah lain. Saat batas yang ada di atas (arus utama/mainstream) belum sempat terbuka (banyak band yang pingin bergabung dengan major label) tiba-tiba ada tawaran media baru, internet. Akhirnya lava yang mau naik ini menemukan saluran baru, dan merembes ke sana. Sementara, musik yang ada di lapisan atas tetap yang itu-itu saja. Katakanlah para label alternatif ini mempunyai akses produksi. Tapi ketika bicara distribusi ke khalayak, gatekeeper-nya tetap kapitalis musik yang pada akhirnya menetapkan standar. Misalnya, kalau nggak dapet rekomendasi dari Pay, demo lagunya akan susah didenger oleh bu Acin (Indrawati Widjaja) Musica Studio’s. Yang ‘bagus-bagus’ akhirnya merembes ke saluran yang lain. Kemudian situasi ini terakumulasi. Ternyata ketika semua orang sudah mendapat akses produksi, salurannya tetap mampet.
Souncloud, platform sharing audio favorit saat ini. foto: blog.soundcloud.com
Soundcloud, platform sharing audio favorit saat ini. foto: blog.soundcloud.com
Secara harfiah, sebenarnya nggak ada musik indie. Musik ya musik. Pembedanya adalah segi penciptaan, energi, kebebasan. Independen beda dengan arus utama atau mainstream. Musik mainstream, kebutuhan terbesar yang utama adalah diterima pasar. Tak heran lirik dan musiknya dibuat menjual. Sementara, musik independen sarat kreativitas. Banyak musisi yang setuju kalau bermusik seharusnya menyenangkan dan lepas. Kalau ada pihak lain yang mengintervensi, hasilnya tak akan maksimal. Itu yang kebanyakan terjadi di label mayor.
indie adalah kebebasan berekspresi. foto: fbifm.com
indie adalah kebebasan berekspresi. foto: fbifm.com
Lalu datang polemik berikut, era digital secara enggak langsung juga berpengaruh pada penjualan rilisan fisik. Sadar enggak? Kenapa bisa ada pilihan paket ayam goreng yang menyertakan CD musik? Sebegitu rendahnya kah posisi tawar sebuah karya musik?
Rilisan fisik apapun bentuknya, bersifat krusial bagi musisi independen dalam sejarah skena musik di area masing-masing. Bisa dibilang semacam artefak lah. Kalau kamu suka karya band atau musisi lokal yang memproduksi karya mereka sendiri. Sebaiknya kamu beli rilisan fisiknya daripada mengunduh dengan gratis. Mungkin buat generasi millenial, rilisan musik berbentuk fisik ini mereka kenal lewat orang tua, om, tante dan kakak-kakaknya. Bagi mereka, iPod, iPhone, iPad dan gadget lainnya adalah bentuk rilisan musik dalam bentuk fisik yang umum. Nah, sejak dilangsungkan perayaan Record Store Day sekitar tahun 2008. Sekarang orang-orang kembali ramai mengumpulkan dan melakukan pengarsipan untuk rilisan-rilisan musik dalam bentuk fisik yang bisa dipegang, bukan berbentuk data digital.
Record Store Day East Borneo 2015.
Record Store Day East Borneo 2015.
Kalau dilihat dari musisinya, rilisan fisik adalah statement, suatu karya seni dimana rangkaian komposisi suara berbentuk musik di dokumentasikan. Ada nilai karya ketika musisi memperlihatkan rilisan berbentuk fisik ke khalayak ramai, paling tidak lebih berprestise ketimbang pamer lewat iPod atau malah lewat moment di social media. Bagi si pembeli rilisan fisik, momen unpackaging/unboxing joy (keriangan ketika membuka kemasan pertama kali) adalah sesuatu yang tak ternilai. Menemukan beragam kejutan di dalam kemasan sebuah rilisan fisik. Mulai dari bentuk kemasan yang unik, ilustrasi di inlay/sleeve, booklet, poster, stiker, patch/emblem, dan bahkan tanda tangan atau penomoran resmi dari musisi yang bersangkuitan. Yang tentunya tidak dapat diperoleh kecuali dengan membeli rilisan fisik tersebut.
Kejutan dalam kemasan. foto: saratdusta
Kejutan dalam kemasan. foto: saratdusta
Dari proses sebuah rilisan fisik, band atau musisi independen ini memproduksi dengan banyak enerji, waktu, pikiran dan biaya yang enggak sedikit. Proses sebuah ide yang kemudian pelan-pelan dikeluarkan sampai jadi sebuah lagu tak mudah, dan tak murah juga. Beberapa dari mereka menggunakan uang mereka sendiri secara kolektif dari hasil menabung atau gaji mereka. Bahkan ada musisi yang mengandalkan penjualan album dan merchandise mereka untuk bertahan hidup. Katakanlah, kamu sudah berhasil bikin band, manggung di banyak tempat dan rutin promosi band lewat viral marketing. Tapi biaya yang dikeluarin untuk rekaman, pembuatan album, bayar sound engineer, bikin artwork sampul, transportasi, rehearsal dan lain-lain masih belum sebanding dengan pendapatan dari manggung dan penjualan lagu atau merchandise. Padahal secara kualitas, lagu kamu bagus. Bisa jadi karena minimnya akses ke distributor dan media besar. Selain itu, finansial dan ketersediaan waktu jadi faktor utama hambatan musisi independen. Beberapa kasus, ketidakmampuan mengelola band dengan baik jadi penyebab banyak band yang semula bergerak secara independen kemudian memilih untuk gabung ke label besar dengan konsekuensi meninggalkan sisi idealis mereka.
Masih mau nanya download dimana? foto: FSTVLST
Masih mau nanya download dimana? foto: FSTVLST
Memang ada beberapa musisi yang tetap konsisten di jalur independen. Tapi sedikit diantaranya yang mampu menjadikan bermusik sebagai profesi utama. Berapa banyak orang sih yang bicara lantang kalau musisi blues adalah pekerjaan utama dan direktur adalah sampingan? Sebaliknya, musisi di bawah label besar seolah dieksploitasi dengan produksi yang berlebihan. Label besar punya kontrol penuh untuk menciptakan tren di Indonesia, mereka mampu mengorbitkan artis-artis baru secara instan, yang secara kualitas beberapa diantaranya emang meragukan. Emang sih, peminatnya nggak pernah surut, dan pasti terkenal (walaupun dalam durasi singkat). Ada beberapa faktor yang bikin label besar lebih unggul dari sisi bisnis dan promosi, misalnya distribution clout, marketing dan capital. Tiga hal ini memerlukan biaya yang luar biasa besar.
Beberapa tahun belakangan ini, sebagian orang beranggapan membeli rilisan fisik sebuah album musik kembali bernilai -setelah berlalunya era RBT (Ring Back Tone). Mendengarkan musik dengan media kaset atau vinyl sudah kembali menjadi kegiatan yang ‘sakral’ dalam menikmati musik. Berterimakasihlah kepada Record Store Day dan kampanye sejenis lainnya yang beberapa tahun belakangan giat dilakukan, orang-orang kembali berlomba-lomba untuk mengkoleksi rilisan fisik. Apalagi akhir-akhir ini banyak musisi Nasional yang merilis album dalam bentuk vinyl yang notabene punya prestise “lebih” dibanding kaset atau CD. Meskipun harganya relatif lebih mahal, namun vinyl adalah harta karun bagi para pengkoleksi rilisan fisik.
ketika langka harganya pun meroket. foto: @headquarterstcjkt
ketika langka harganya pun meroket. foto: @headquarterstcjkt
Bagi sebagian orang membeli rilisan fisik juga bisa berarti bertambahnya beban ‘kebutuhan hidup’ yang lain, artinya enggak semua orang mampu dan mau membeli rilisan fisik dari band/musisi yang disukai. Banyak orang yang masih beranggapan, “Kalau ada yang gratis kenapa harus beli?” Semua orang sekarang mudah mendapatkan karya musik secara gratis dari situs-situs file sharing. Entah, apakah ini berlaku juga buat ‘fans fanatik’, ya emang balik lagi ke masing-masing individu, mau beli rilisan fisik dari band/musisi favoritnya atau lebih memilih mengunduh gratis lagu-lagunya di internet.
Membeli rilisan fisik memang hukumnya enggak wajib. Bagi yang mampu saja. Mungkin kamu kurang tertarik dengan rilisan fisik, enggak apa-apa masih ada cara lain untuk mendukung musisi independen kesukaan kamu. Datang langsung ke gig atau konser mereka dan BELI TIKET. Turun ke moshpit, ikut sing-along atau sekedar nonton juga bentuk dukungan langsung terhadap mereka.
habis wal. foto: @omuniuum
habis wal. foto: @omuniuum
Rilisan fisik, terutama vinyl dan kaset, dianggap memberikan ikatan emosional karena memori dan kenangan di dalamnya. Ada yang bilang, bagi orang-orang yang percaya bahwa hidup dan sejarah tidak berjalan linear tapi merupakan sebuah siklus. Mencintai vinyl, kaset dan segala macam high maintenance cost yang ditimbulkan adalah serupa mencintai hidup dengan segala ketidakteraturan dan ketidaksempurnaannya. Mereka serupa pacar yang abusive, merepotkan tapi terlalu kita cintai untuk dilepaskan.

Sumber : http://undas.co/2015/09/kenapa-rilisan-fisik-itu-penting-dan-tak-tergantikan/

Sejarah Kaset Tape

Sejarah Kaset Tape

sejarah kaset tape

Compact Cassette, yang biasa disebut kaset, pita kaset, atau tape adalah media penyimpan data yang umumnya berupa lagu.
Berasal dari bahasa Perancis, yakni cassette yang berarti "kotak kecil".Kaset berupa pita magnetik yang mampu merekam data dengan format suara.Dari tahun 1970 sampai 1990-an, kaset merupakan salah satu format media yang paling umum digunakan dalam industri musik.Kaset terdiri dari kumparan-kumparan kecil.Kumparan-kumparan dan bagian-bagian lainnya ini terbungkus dalam bungkus plastik berbentuk kotak kecil berbentuk persegi panjang.Di dalamnya terdapat sepasang roda putaran untuk pita magnet.Pita ini akan berputar dan menggulung ketika kaset dimainkan atau merekam.Ketika pita bergerak ke salah satu arah dan yang lainnya bergerak ke arah yang lain.Hal ini membuat kaset dapat dimainkan atau merekam di kedua sisinya.Contohnya, side A dan side B.Sejarah dan Asal UsulnyaKaset pertama kali diperkenalkan oleh Phillips pada tahun 1963 di Eropa dan tahun 1964 di Amerika Serikat, dengan nama Compact Cassette.Kemudian kaset semakin populer di industri musik selama tahun 1970-an dan perlahan-lahan menggeser piringan hitam.Produksi besar kaset diawali pada tahun 1964 di Hanover, Jerman.Pada awalnya, kualitas suara pada kaset ini tidak terlalu bagus untuk musik.Bahkan beberapa model awal tidak memiliki rancangan mesin yang baik.Pada tahun 1971, The Advant Corporation memperkenalkan model terbarunya, Model 201, yang menggabungkan Dolby tipe B pengurang gangguan (noise) dengan pita kromium dioksida.Oleh karena itulah kaset mulai dapat digunakan dalam industri musik secara serius, dan dimulailah era kaset berketepatan tinggi.Selama tahun 1980-an, popularitas kaset tumbuh semakin pesat karena hadirnya rekorder poket portabel pemutarnya seperti Sony’s Walkman.Seperti radio yang menyediakan musik pada 1960-an, pemutar CD portable pada 1990-an, dan MP3 player pada 2000-an,kaset memegang peran besar dalam dunia musik pada 1980-an dan 1990-an,bahkan di era sekarang (setelah 2000-an), kaset masih menjadi salah satu alternatif media musik.Lepas dari segi tekniknya, keberadaan kaset juga berdampak pada perubahan sosial.Keawetan kaset serta kemudahannya untuk dikopi berperan di balik berkembangnya musik punk dan rock.Kaset seakan-akan menjadi pijakan bagi generasi muda di kebudayaan barat.Untuk alasan yang sama pula kaset berkembang pesat di negara-negara berkembang.Pada tahun 1970-an, kaset dianggap membawa pengaruh buruk sekularisme di kalangan masyarakat religius India.Teknologi kaset menciptakan pasar yang membludak bagi musik pop di India, menimbulkan kritik dari kaum konservatif dan di waktu yang sama menciptakan pasar besar yang melegitimasi perusahaan-perusahaan rekaman dan pembajakan kaset.Tipe - Tipe KAset

sejarah kaset tape

Goresan-goresan yang terdapat pada permukaan kaset menjadi indikasi tipe kaset.
Kaset yang paling tinggi, hanya memiliki goresan lindungan tulisan merupakan kaset tipe I.Berikutnya, dengan goresan tambahan untuk goresan lindungan tulisan merupakan tipe II.Sedangkan dua tipe kaset berikutnya merupakan perpaduan antara kaset tipe II dengan sepasang tambahan di tengah-tengah kaset merupakan tipe IV.MateriMateri magnet original pada kaset adalah gamma ferik oksida (Fe2O3).Pada 1970, Perusahaan 3M telah mengembangkan kobalt yang dikombinasikan dengan lapisan ganda untuk meningkatkan level output pita kaset secara keseluruhan.Produk ini dipasarkan dengan label “High Energy” di bawah brand Scotch.Di saat yang sama, BASF memperkenalkan kromium dioksida (CrO2) yang pelapisannya menggunakan magnetit (Fe3O4).Pada tahun 1974, TDK memperkenalkan [[avylin]] yang terbukti sangat sukses.Pada tahun 1979, akhirnya 3M memperkenalkan partikel metal murni yang dinamakan metafine.Sedangkan kaset-kaset yang sekarang umum dijual terdiri dari ferik oksida dan kobalt yang dicampur dan diproses, karena sangat jarang ada kaset yang dijual yang menggunakan CrO2 murni sebagai lapisannya.

Sejarah Kaset Tape Di Indonesia

sejarah kaset tape

Sebelum 1970-an, dunia musik tanah air menggunakan piringan hitam sebagai sarana untuk mengekspresikan musik.
Lokananta di Surakarta dan Irama di Menteng Jakarta merupakan dua perusahaan rekaman pertama di Indonesia.
Lokananta, yang merupakan milik pemerintah, berdiri pada tahun 1957.
Bertugas untuk memproduksi dan menduplikasi piringan hitam.
Namun di tahun 1970-an akhirnya produksi pun bergeser dari piringan hitam ke kaset.

Remaco, yang pada masa itu merupakan salah satu perusahaan rekaman besar di Indonesia, mengalami kerugian pada masa awal munculnya kaset di tahun 1970-an.
Lagu-lagu dalam piringan hitamnya dibajak ke dalam kaset.
Meskipun pada akhirnya Remaco pun memproduksi kaset karena kaset merupakan teknologi yang lebih murah dan praktis dibandingkan dengan piringan hitam yang mahal dan rumit.

Meskipun awalnya perusahaan-perusahaan rekaman tersebut mengeluh atas munculnya kaset yang membajak piringan hitam, akhirnya mereka pun—sekaligus perusahaan yang baru muncul—berpaling dan menikmati suatu teknologi baru bernama ‘kaset’ tersebut.
Kaset meledak di mana-mana.
Para musisi baru di ‘era kaset’ bermunculan dan perlahan menggeser musisi-musisi ‘era piringan hitam’.
Sebut saja Koes Plus, Broery Marantika, dan Emilia Contessa.
Namun, seiring berkembangnya teknologi dan inovasi-inovasi baru di bidang musik, di pertengahan 1990-an, kaset mengalami masa-masa akhir kejayaannya.
Masuknya compact disc (CD) ke Indonesia menyediakan alternatif baru dan canggih bagi para penikmat musik.
Kualitas suaranya yang lebih jernih dan pemilihan pemutaran lagu yang lebih mudah dan cepat menjadi beberapa kelebihan CD dibandingkan kaset.
Meskipun begitu kaset tetap diminati karena harganya yang lebih murah dibandingkan CD.
Di tahun 2000-an, kaset pun makin tergencet oleh perkembangan CD.
Perusahaan-perusahaan rekaman di tanah air telah menjadikan CD sebagai sarana rekaman musik.

Pada perkembangan di Indonesia, kaset tidak hanya digunakan dalam industri musik.
Kaset juga biasanya digunakan untuk dakwah-dakwah agama berupa ceramah oleh seorang rohaniawan.

Sumber : Wikipedia indonesia

SEJARAH MUSIK KLASIK

SEJARAH MUSIK KLASIK

Sejak abad ke-2 dan abad ke-3 sebelum Masehi, di Tiongkok da Mesir ada musik yang mempunyai bentuk tertentu. Dengan mendapat pengaruh dari Mesir dan Babilon, berkembanglah musik Hibrani yang dikemudian hari berkembang menjadi musik Gereja. Musik itu kemudian disenangi oleh masyarakat, karena adanya pemain-pemain musik yang mengembara serta menyanyikan lagu yang dipakai pada upacara Gereja. Musik itu tersebar di seluruh Eropa kemudian tumbuh berkembang, dan musik instrumental maju dengan pesat setelah ada perbaikan pada alat-alat musik, misalnya biola dan cello. Kemudian timbulah alat musik Orgel. Komponis besar muncul di Jerman, Prancis, Italia, dan Rusia. Dalam abad ke 19, rasa kebangsaan mulai bangun dan berkembang. Oleh karena itu perkembangan musik pecah menurut kebangsaannya masing-masing, meskipun pada permulaannya sama-sama bergaya Romantik. Mulai abad 20, Prancis menjadi pelopor dengan musik Impresionistis yang segera diganti dengan musik Ekspresionistis.
A.Perkembangan Musik Dunia
Musik sudah ada sejak Zaman purbakala dan dipergunakan sebagai alat untuk mengiringi upacara-upacara kepercayaan. Perubahan sejarah musik terbesar terjadi pada abad pertengahan,disebabkan terjadinya perubahan keadaan dunia yang makin meningkat. Musik tidak hanya dipergunakan untuk keperluan keagamaan, tetapi dipergunakan juga un tuk urusan duniawi
PERKEMBANGAN MUSIK DUNIA TERBAGI DALAM ENAM ZAMAN :
1.Zaman Abad Pertengahan
Zaman Abad Pertengahan sejarah kebudayaan adalah Zaman antara berakhirnya kerajaan Romawi (476 M) sampai dengan Zaman Reformasi agama Kristen oleh Marthen Luther (1572M). perkembangan Musik pada Zaman ini disebabkan oleh terjadinya perubahan keadaan dunia yang semakin meningkat, yang menyebabkan penemuan-penemuan baru dalam segala bidang, termasuk dalam kebudayaan. Perubahan dalam sejarah musik adalah bahwa musik tedak lagi dititikberatkan pada kepentingan keagamaan tetapi dipergunakan juga untuk urusan duniawi, sebagai sarana hiburan.
Perkembangan selanjutnya adalah adanya perbaikan tulisan musik dan dasar-dasar teori musik yang dikembangkan oleh Guido d’ Arezzo (1050 M)Musik dengan menggunakan beberapa suara berkembang di Eropa Barat. Musik Greogrian disempurnakan oleh Paus Gregorius.
Pelopor Musik pada Zaman Pertengahan adalah :
1. Gullanme Dufay dari Prancis.
2. Adam de la halle dari Jerman.
2. Zaman Renaisance (1500 – 1600)
Zaman Renaisance adalah zaman setelah abad Pertengahan, Renaisance artinya Kelahiran Kembali tingkat Kebudayaan tinggi yang telah hilang pada Zaman Romawi. Musik dipelajari dengan cirri-ciri khusus, contoh nyanyian percintaan, nyanyian keperwiraan. Sebaliknya musik Gereja mengalami kemunduran. Pada zaman ini alat musik Piano dan Organ sudah dikenal, sehingga munculah musik Instrumental. Di kota Florence berkembang seni Opera. Opera adalah sandiwara dengan iringan musik disertai oloeh para penyanyinya.
Komponis-komponis pada Zaman Renaisance diantaranya :
1. Giovanni Gabrieli (1557 – 1612) dari Italia.
2. Galilei (1533 – 1591) dari Italia.
3. Claudio Monteverdi (1567 – 1643) dari Venesia.
4. Jean Baptiste Lully (1632 – 1687) dari Prancis
3. Zaman Barok dan Rokoko
Kemajuan musik pada zaman pertengahan ditandai dengan munculnya aliran-aliran musik baru, diantaranya adalah aliran Barok dan Rokoko. Kedua aliran ini hamper sama sifatnya, yaitu adanya pemakaian Ornamentik (Hiasan Musik). Perbedaannya adalah bahwa musik Barok memakai Ornamentik yang deserahkan pada Improvisasi spontan oleh pemain, sedangkan pada musik Rokoko semua hiasan Ornamentik dicatat.
Komponis-komponis pada Zaman Barok dan Rokoko :

A. Johan Sebastian Bach
Lahir tanggal 21 Maret 1685 di Eisenach Jerman, meninggal tanggal 28 Juli 1750 di Lipzig Jerman.Pada akhir hidupnya Sebastian Bach menjadi buta dan meninggal di Leipzig
B. George Fredrick Haendel
Lahir di Halle Saxony 23 Februari 1685 di London, meninggal di London tanggal 14 April 1759. Semasa kecilnya dia sudah memperlihatkan bekat keahlian dalam bermain musik. Pada tahun 1703,ia pindah ke Hamburg untuk menjadi anggaota Orkes Opera. Tahun 1712 ia kembali mengunjungi Inggris.
4. Zaman Klasik 91750 – 1820)
Sejarah musik klasik dimukai pada tahun 1750, setelah berakhirnya musik Barok dan Rokoko.
Ciri-ciri Zaman musik Klasik:
a. Penggunaan dinamika dari Keras menjadi Lembut, Crassendo dan Decrasscendo.
b. Perubahan tempo dengan accelerando (semakin Cepat) dan Ritarteando (semakin lembut).
c. Pemakaian Ornamentik dibatasi
d. Penggunaan Accodr 3 nada.
Komponis-komponis pada Zaman Klasik antara lain :
  • Frans Joseph Haydn (1732 – 1809),
Lahir di Rohrau Austria, ia meninggal tanggal 31 Mei 1809 di Wina Austria. Dalam sejarah musik, Joseph Haydn termashur sebagai Bapak Simfony yang mewujudkan bentuk orkes dan kuartet seperti yang kita kenal sekarang. Di Wina ia diakui sebagai Komponis Austria yang handal.
  • Wolfgang Amandeus Mozart (1756 – 1791)
Lahir pada tanggal 27 januari 1756 di Salzburg Austria, meninggal tanggal 5 Desember 1791 di Wina Austria. Ia menulis banyak komposisi dalam bentuk yang berbeda-beda tetapi berpegang kuat pada gaya klasik murni.
5. Zaman Romantik (1820 – 1900)
Musik romantic sangat mementingkan perasaan yang subyaktif. Musik bukan saja dipergunakan untuk mencapai keindahan nada-nada, akan tetapi digunakan untuk mengungkapkan perasaan. Oleh karena itu, dinamika dan tempo banyak dipakai. Komponis-komponis pada Zaman romantic adalah :
a. Ludwig Von Bethoven dari Jerman.
b. Franz Peter Schubert dari Wina.
c. Francois Fredrick Chopin dari Polandia
d. Robert Alexander Schumann dari jerman.
e. Johanes Brahms dari Hamburg Jerman.
6. Zaman Modern (1900 – sekarang)
Musik pada Zaman ini tidak mengakui adanay hokum-hukum dan peraturan-peraturan, karena kemajuan ilmu dan teknologi yang semakin pesat, misalnya penemuan dibidang teknik seperti Film, Radio, dan Televisi. Pada masa ini orang ingin mengungkapkan sesuatu dengan bebas.

Komponis-komponis pada Zaman Modern :
1. Claude Achille Debussy dari Prancis
2. Bella Bartok dari Honggaria.
3. Maurice Ravel dari Prancis.
4. Igor Fedorovinsky dari Rusia
5. Edward Benyamin Britten dari Inggris.
Sumber : kompasiana.com

10 Musisi Jazz Indonesia Terfavorit

Jazz merupakan salah satu aliran musik cukup populer dan digandrungi banyak kalangan. Tak hanya mereka yang berusia dewasa, kalangan muda pun keranjingan dengan jenis aliran musik satu ini. Banyak musisi jazz yang menjadi idola masyarakat Tanah Air. Berikut 10 musisi jazz Indonesia terfavorit menurut ane ini.

1. RAISA
Siapa tak kenal penyanyi berparas cantik Raisa, salah musisi berbakat yang didaulat sebagai musisi jazz paling populer di tanah air saat ini. Dalam waktu singkat, Raisa telah banyak mengeluarkan single yang easy listening dan terbukti digemari masyarakat Indonesia. Sebut saja Could It Be, Teka Teki, serta Serba Salah. Wanita kelahiran Jakarta, 6 Juni 1990 ini memang sering kali membawakan lagu-lagu bergenre jazz.

2. TOMPI
Musisi jazz terpopuler selanjutnya adalah Tompi. Musisi yang juga berprofesi sebagai dokter ini sudah malang melintang di dunia musik Tanah Air sejak 2003. Total ada 9 album yang telah dihasilkan pemilik nama Teuku Adi Fitrian ini di antaranya Sedari Dulu dan Menghujam Jantungku. Suara melengking menjadi ciri khas dan karakter Tompi di atas panggung. Hanya dengan mendengarkan suaranya saja, kita sudah bisa tahu bahwa sang pemiliki suara adalah Tompi.

3. INDRA LESMANA
Pria kelahiran Jakarta, 28 Maret 1966 ini pernah mengenyam sekolah musik di Australia. Selama di Australia, Indra mendapatkan banyak ilmu sejumlah musisi jazz Negeri Kangguru, dari Don Burrows, Roger Frampton dan Paul McNamara. Putra musisi jazz kawakan Indonesia Jack Lesmana ini pun juga melebarkan sayapnya di kancah internasional, salah satunya pada tahun 2008 di mana dirinya diundang tampil di acara Asia-Pacific Weeks di Berlin, Jerman.

4. ANDIEN
Andini Aisyah Haryadi, atau yang biasa dikenal dengan Andien adalah satu dari sedikit musisi jazz wanita Indonesia. Sejak 2000, dia telah menghasilkan 6 album, yaitu Bisikan Hati (2000), Kinanti (2002), Gemintang (2005), Kirana (2010), #Andien (2013), Let It Be My Way (2014). Selain itu dia juga membentuk sebuah grup vokal bersama dengan Rieka Roeslan, Nina Tamam, Iga Mawarni, dan Yuni Shara dengan nama 5 Wanita.

5. TULUS
The Rising Star, sebutan ini memang cocok diberikan kepada pria bernama lengkap Muhammad Tulus. Pria yang satu ini memang sedang melejit akhir-akhir ini. Semenjak single pertamanya dirilis dengan judul Sewindu, dia tidak pernah absen melantunkan hits yang selalu menempati tangga lagu teratas musik Indonesia. Misalnya seperti Teman Hidup, Sepatu, Gajah dan Jangan Cintai Aku Apa Adanya. Walaupun Tulus sering bernyanyi dengan nuansa musik jazz, namun ia tidak mengatakan aliran musiknya jazz. Dia lebih senang mengatakan aliran musiknya dengan nama “Eklektik”.

6. MALIQ & D’ ESSENTIALS
Maliq & D'Essentials adalah sebuah grup musik beraliran jazz asal Jakarta. Maliq merupakan kepanjangan dari Music And Live Instrument Quality. Grup band yang lahir semenjak tahun 2002 ini saat ini beranggotakan 6 orang, yaitu Angga dan Indah (vokal), Jawa (bass), Widi (drum), Lale (gitar), Ilman (Kibord). Semenjak penampilanya di Jakarta International Jazz Festival 2005, Maliq tidak pernah absen mencetak lagu hits di antaranya Terdiam (2004), Itu Adanya (2007), Mata Hati Telinga (2009), Menari (2010), Setapak Sriwedari (2013), dan Himalaya (2014).

7. CALVIN JEREMY
Berparas tampan dan suara merdu memang menjadi daya tarik pria kelahiran Jakarta, 6 Mei 1991 ini. Calvin sampai saat ini telah membuat 2 album, yaitu Selamanya (2010) dan Calvin Jeremy (2012). Nama Calvin Jeremy mulai melejit saat menyanyikan lagu utamanya Dua Cinta Satu Hati pada 2010. Namanya kian tersohor setelah ia sering mengupload videonya bermusik di YouTube dengan menyanyikan lagu-lagu John Mayer.

8. DIRA SUGANDI
Penyanyi kawakan ini memang sudah tidak diragukan lagi kiprahnya di belantika musik Indonesia. Salah satu moment paling spesial perempuan bernama lengkap Dira Julianti Sugandi ini adalah saat berduet dengan penyanyi latin Keith Martin pada 2005 dan Jason Mraz pada tahun 2009 pada acara Java Jazz Festival. Di album terakhirnya, Dira menggarap album tersebut bersama dengan musisi bertaraf internasional yaitu Bluey dan Incognito.

9. BENNY LIKUMAHUWA
Benny Likumahuwa adalah salah satu musisi jazz senior Tanah Air. Benny lihai dalam memainkan berbagai macam alat musik seperti bongo, bass, clarinet, saksofon, dan trombon. Awal kariernya bermusik dengan bergabung bersama Cresendo Band. Ia juga pernah membentuk sebuah band bernama The Augersindo dan tur keliling Asia. Benny turut aktif dalam berbagai acara bertaraf internasional. Sebut di antaranya The Singapore Jazz Festival tahun 1986, The Jakarta Jazz Festival tahun 1988, dan The North Sea Jazz Festival tahun 1990 di Belanda.

10. SYAHARANI
Penyanyi dengan nama lengkap Saira Syaharani Ibrahim merupakan salah satu musisi jazz wanita kondang yang dimiliki Indonesia. Dia pernah mewakili Indonesia di North Sea Jazz festival pada tahun 2001. Sampai saat ini, dia telah merilis sedikitnya 3 album, yaitu Love (1999), Magma (2002), dan Syaharani (2004). Pada tahun 2006, dia kembali meluncurkan sebuah karya. Namun kali ini tidak sendiri, melainkan bareng dua teman lamanya, Achmad "Didit" Fareed dan Donny Suhendra. Mereka membentuk sebuah kolaborasi bernama Syaharani dan Queenfireworks.

SEJARAH MUSIK JAZZ


SEJARAH MUSIK JAZZ


Jazz adalah jenis musik yang tumbuh dari penggabungan blues, ragtime, dan musik Eropa, terutama musik band. Beberapa subgenre jazz adalah Dixieland, swing, bebop, hard bop, cool jazz, free jazz, jazz fusion, smooth jazz, dan CafJazz.Jazz adalah aliran musik yang berasal dari Amerika Serikat pada awal abad ke-20 dengan akar-akar dari musik Afrika dan Eropa.Musik jazz banyak menggunakan instrumen gitar, trombon, piano, terompet, dan saksofon. Salah satu elemen penting dalam jazz adalah sinkopasi.

Sebagian irama dalam musik jazz pernah diasosiasikan dengan rumah-rumah bordil dan perempuan-perempuan dengan reputasi yang kurang baik. Dalam perjalanannya kemudian, jazz akhirnya menjadi bentuk seni musik, baik dalam komposisi tertentu maupun improvisasi, yang merefleksikan melodi-melodi secara spontan. Musisi jazz biasanya mengekspresikan perasaannya yang tak mudah dijelaskan, karena musik ini harus dirasakan dalam hati. “Kalau kau menanyakannya, kau tak akan pernah tahu” begitu menurut Louis Armstrong.

Legenda jazz dimulai di New Orleans dan berkembang ke Sungai Mississippi, Memphis, St. Louis, dan akhirnya Chicago. Tentu saja musik jazz dipengaruhi oleh musik yang ada di New Orleans, tribal drums Afrika dan struktur musik ala Eropa. Latar belakang jazz tidak dapat dilepaskan dari fakta di mana jazz dipengaruhi berbagai musik seperti musik spiritual, cakewalks, ragtime dan blues. Salah satu legenda jazz yang dipercaya bahwa sekitar 1891, seorang pemilik kedai cukur rambut di New Orleans bernama Buddy Bolden meniup cornet-nya dan saat itu lah musik jazz dimulai sebagai gebrakan baru di dunia musik. Setengah abad kemudian, musik jazz di Amerika memberi banyak kontribusi di dunia musik, dipelajari di universitas, dan akhirnya menjadi sebuah aliran musik yang serius dan diperhitungkan.

Musik jazz sebagai seni yang populer mulai menyebar ke hampir semua masyarakat Amerika pada tahun 1920-an (dikenal sebagai Jazz Age). Jazz semakin marak di era swing pada akhir 1930-an, dan mencapai puncaknya di akhir 1950-an sebagai jazz modern. Di awal tahun 20-an dan 30-an, “jazz” telah menjadi sebuah kata yang dikenal umum.
Pengaruh dan perkembangan musik blues tidak dapat ditinggalkan saat membahas musik jazz di tahun-tahun awal perkembangannya. Ekspresi yang memancar saat memainkan musik blues sangat sesuai dengan gaya musik jazz. Kemampuan untuk memainkan musik blues menjadi standar bagi semua musisi jazz, terutama untuk digunakan dalam berimprovisasi dan ber-jam session. Musik blues sendiri, yang berasal dari daerah Selatan, memiliki sejarah yang sangat luas. Pemain musik blues biasanya menggunakan gitar, piano, harmonika, atau bermain bersama dalam kelompok yang memainkan alat-alat musik buatan sendiri.
Sejarah dan perkembangan musik jazz,dibagi dalam beberapa fase/era. Dari fase Dixieland dan Ragtime pada awalnya, kemudian era swing dan bigband (1930-1940), era bebop (pertengahan 1940), latin jazz (1950-1960an), jazz rock atau fusion (1970-an) dan perkembangan terakhir yang melahirkan fase dan era baru seperti acid jazz, funk jazz, cross music dan sebagainya.

Era Dixieland dan Ragtime

Ragtime menjadi unik karena tidak menyertakan improvisasi dan hawa blues. Hal ini adalah sebuah pengaruh dari bentuk asal jazz, berlangsung selama sekitar 15 tahun pertama di abad 20. Umumnya sebuah musik untuk piano yang telah ditulis secara keseluruhan dapat ditampilkan oleh orkestra dan mewakilkan campuran dari pengaruh klasik dan marching band. Coba Anda dengarkan musik dari Scott Joplin untuk mencicipi ragtime.

Dixieland adalah sebuah style yang dapat dianggap sebagai suatu varian dari jazz klasik dan jazz New Orleans. Akar asli dari dixieland sebagai bentuk musikal bersumber dari scene musik Chicago pada tahun 1920-an. Pionir dari dixieland style meliputi gitaris Eddie Condon, saxophonist Bud Freeman, dan trumpeter Jimmy McPartland.

Gaya dixieland melibatkan improvisasi kolektif dalam chorus pertama, dengan para musisi masuk solo bersama riffing dari alat musik tiup, diikuti oleh closing ensemble, biasanya drummer memainkan 4-bar tag yang diakhiri oleh keseluruhan band. Tidak seperti gaya-gaya musik jazz yang lain, set lagu untuk musisi dixieland agak terbatas, namun menawarkan variasi yang tanpa akhir dalam model suara, dikembangkan sekitar 1910-an.

Seiring dengan berkembangnya ragtime, New Orleans jazz muncul dalam scene musik jazz selama 2 dekade pertama di abad 20. Dianggap sebagai suatu style jazz pertama, yaitu dari 1895 dengan musik Buddy Bolden, Kid Ory, dan Jelly Roll Morton di Storyville, New Orleans, sampai mendekati 1917. New Orleans jazz telah menjadi tidak fit untuk marching brass band. Ada dokumentasi New Orleans jazz pertama dari The Original Dixieland Jass Band di tahun 1917 sampai 1920-an, ketika teknologi rekaman telah berkembang.

Musik ini berkembang meliputi pemain trumpet dan cornet, seperti Joe Oliver dan Louis Armstrong, ditampilkan sebagai suatu gaya yang berorientasi terhadap ensemble, dengan pemain trumpet memainkan melodi, harmoni dan countermelodi datang dari pemain trombon dan/atau clarinet. Seksi rhythm berkembang menjadi suatu banjo ensemble, drum, tuba atau bass, dan piano. Secara keseluruhan, poin penting dalam New Orleans jazz adalah untuk menitikberatkan suatu ensemble daripada solo. Musik ini berlanjut melebarkan sayapnya selama era 1920-an, dan mulai disaingi oleh lahirnya musik swing yang akhirnya akan menggantikan jenis musik ini. Dixieland style, yang tumbuh beriringan, menjaga struktur dasar dari New Orleans jazz.

Era swing dan bigband

Duke Ellington Big Band Sekitar tahun 1920 dan awal tahun 1930, dansa filip merupakan dansa yang sangat populer di kala itu. Melodi yang mengiringi dansa ini harus lembut dan romantis, biasanya di iringi oleh sebuah orkestra. Orkestra tersebut di mainkan sesuai dengan apa yang dituliskan di suatu kertas dan penyanyinya harus menyanyikan dengan sangat lembut dan pelan (biasanya penyanyinya memakai suara tenor). Lalu music swing lambat laun meninggalkan orkestra string dan memilih untuk memakai yang lebih mudah, suatu aransemen yang lebih “seru” yang menghasilkan suara terompet dan instrumen yang memakai angin dan mengimprovisasi melodi.

Louis Armstrong menawarkan sudut pandang yang berbeda dalam sejarah swing, disiarkan secara mendunia oleh suatu acara di stasiun radio Bing Crosby. Crosby berkata, “kami memperkenalkan kepada anda seorang yang adalah master dari swing dan saya akan meminta tolong kepadanya untuk memberi penjelasan kepada anda tentang apa itu musik swing. Lalu beberapa saat louis menjelaskan, “ow, musik swing, ya kami semua menyebutnya ragtime, lalu blues, lalu jazz. Dan sekarang disebut swing.”

Pada tahun 1930an merupakan kelahiran musik swing. Efek yang baru ini lebih bagus dibandingkan pada tahun 1920an, tapi kalau ditanya mengenai musiknya, tentu membuat semua orang yang mendengarnya serasa ingin berdansa swing. Sebagian besar kelompok band yang beraliran jazz mengadopsi style ini di awal tahun 1930, tapi band yang bermain “manis” tetap menjadi band yang terpopuler di kalangan penari kulit putih sampai seseorang bernama Benny Goodman muncul di Ballroom Palomar pada bulan agustus 1955 dengan musiknya yang lebih “hot”.

Para penonton dari penari muda kulit putih sangat menyukai Ritme “hot” Goodman dan komposisi musik swingnya. Hot swing dan Boogie Woogie menjadi bentuk yang dominan dari musik amerika untuk sepuluh tahun ke depan. Lalu banyak bermunculan setelah swing ini menjadi populer. Sebagai contoh Bing Crosby dan Frank Sinatra memakai band swing untuk memberikan efek yang sangat bagus dalam musiknya dan tetap mempertahankan hal ini menjadi musik yang populer meskipun telah tiba saatnya era rock n roll.

Era Bebop

Miles DavisBebop adalah salah satu aliran music jazz yang mempunyai karakteristik unik berupa tempo yang sangat cepat dengan mengutamakan improvisasi pada struktur harmoni daripada improvisasi pada melodi. Musik bebop dikembangkan di pertengahan 1940an dan mulai dimainkan musisi terkenal dalam 2 tahun pertama di perang dunia II.

Pada era tahun 1940an, para penggemar jazz mulai meninggalkan music swing tahun 30an. Para musisi papan atas seperti Dizzy Gillespie, Bud Powell, Charlie Parker, dan Thelonious Monk yang sangat terinspirasi dari generasi sebelumnya seperti Art Tatum, Ear hines, Coleman Hawkins, Lester Young, dan juga Roy Eldridge.

Bebop menggambarkan perubahan drastis dari music jazz era swing dengan karakter yang sudah dijelaskan diatas, tempo cepat, phrase yang asimetrik, melodi yang penuh dengan intrik, dan ritme yang benar-benar diubah secara drastic. Bebop sering tampak sebagai music yang nervous dan sering terputus dan terbagi. Tapi bagi hampir semua pemusik jazz dan juga peminat jazz di seluruh dunia, era music bebop diakui sebagai revolusi music jazz yang paling menarik dan indah.

Kebebasan yang ditawarkan music bebop dalam struktur musiknya benar-benar menentang kaedah music swing yang lebih ke arah aransemen music untuk orchestra atau band. Dalam music bebop, anda akan menemukan banyak sekali improvisasi individual dalam permainan chord dan alat musiknya. Bahkan ketika para musisi jazz sudah terbawa music mereka, jazz bebop akan memberikan anda sebuah improvisasi yang bersifat spontan dimana para musisi bahkan mungking tidak akan bisa mengulang improvisasi mereka dari awal hingga akhir. Disini adalah perbedaan paling besar dari music bebop bila dibandingkan dengan music swing. Penambahan kompleksitas dari melody yang dimainkan juga merupakan tren baru yang terdapat dalam jazz era bebop.

Pada kebanyakan permainan jazz bebop, ada beberapa instrument yang lazim digunakan. Instrumen-instrumen tersebut adalah saxophone, terompet, drum, bass, dan juga piano. Format awal dari jazz bebop ini dipopulerkan pleh duet Charlie Parker dan Dizzy Gillespie pada tahun 1940an. Permainan grup yang digawangi oleh Charlie Parker dan Dizzy Gillespie juga sering sekali menambahkan saxophone, gitar, trombone, atau biola dalam komposisi jazz bebop mereka. Meskipun hanya menjadi salah satu dari aliran music jazz, hingga saat ini jazz bebop masih dimainkan di seluruh dunia. Ciri khas berupa substitusi harmoni yang sangat kompleks serta improvisasi yang sangat bebas menjadi kesukaan dari banyak musisi jazz. Dalam semua pendidikan jazz, aliran dari jazz bebop ini dapat menjadi salah satu alternative untuk mengekspresikan diri.

Musik Bebop paling baik dimainkan dalam format small-group; quartets dan quintets terbukti ideal dengan alasan ekonomis dan artistik. Musik ini berkembang di lingkungan klab-klab jazz perkotaan, dimana penonton lebih memilih datang untuk mendengarkan permainan solo ketimbang untuk berdansa diiringi lagu favorit mereka. Secara singkat, musisi bebop menjadikan jazz suatu bentuk seni yang tidak hanya ditujukan untuk rasa, namun juga kecerdasan intelektual.

Bintang-bintang jazz bermunculan di era bebop, diantara mereka adalah trumpeters Clifford Brown, Freddie Hubbard dan Miles Davis, saxophonists Dexter Gordon, Art Pepper, Johnny Griffin, Pepper Adams, Sonny Stitt dan John Coltrane, dan trombonist J.J. Johnson.

Di era 1950-an dan 1960-an, bebop mengalami beberapa mutasi : hard-bop, West Coast, cool-jazz dan soul jazz diantaranya. Format small-group dari bebop, yaitu satu hingga tiga horns, piano, bass dan drums, tetap menjadi standard combo instrumentasi jazz sampai hari ini.

Referensi:
http://forum.kompas.com/showthread.php?33723-Sejarah-Musik-Jazz-Di-Dunia
http://nggot.multiply.com/journal/item/8/Sejarah_Musik_Jazz
http://hiburan.kompasiana.com/gosip/2010/03/06/musik-jazz-sejarah-dan-perkembangannya-1/

Sabtu, 21 Mei 2016

7 Festival Musik Paling Meriah Di Indonesia

Indonesia tidak hanya terkenal dengan kekayaan alamnya, tetapi juga banyak hal lain yang menakjubkan di sini, seperti rasa dalam musik, misalnya. Siapa sangka jika band oleh The Tielman Brothers yang menjadi inspirasi bagi John Lennon membentuk The Beatles berasal dari negara ini. Yup, Indonesia memang memiliki sejarah yang cukup panjang musik dan unik, serta dengan serangkaian festival musik yang ada di sini.
Jika Inggris memiliki banyak festival besar semacam Glastonburry, Amerika dengan yang Woodstock dan Lollapalooza, dan Australia dengan Day Out Big adalah, Indonesia-sebenarnya tidak hilang. Ada banyak festival musik keren di Indonesia di mana kami telah 7 Festival Musik Terbaik di Indonesia.

Jakarta International Java Jazz Festival
lensaterkini.web.id – Ini adalah salah satu festival jazz terbesar di Indonesia dan bahkan di Asia. Festival ini selalu sukses setiap tahun dengan melibatkan banyak musisi dari seluruh dunia. Beberapa nama seperti Earth, Wind Dan Api, James Brown, Stevie Wonder, tidak pernah bermain di festival ini.
Diselenggarakan di Jakarta, festival itu sendiri telah dimulai track record keberadaannya sejak 10 tahun yang lalu. Kali ini festival ini telah menjadi salah satu festival musik tahunan ikonik di Indonesia.
Jazz Gunung
Mungkin menampilkan musik jazz dalam format festival digunakan, tetapi bagaimana jika latar belakang pengaturan di tempat terbuka seperti di kaki gunung? Nah, festival yang disebut Jazz Gunung untuk pertama kalinya diadakan di Indonesia pada tahun 2009 dan ternyata semangat dari penggemar luar biasa.
Menampilkan sejumlah jazz yang bercampur dengan indah dengan musik etnik dan luar biasa nuansa alami dan menghasilkan sensasi yang berbeda untuk menikmati musik di udara terbuka. Festival itu sendiri digagas oleh tiga serangkai seniman yang Butet Kartaredjasa, Djajuk Ferianto, dan Sigit Pramono.
Jazz Goes To Campus
lensaterkini.web.id – Indonesia dan musik jazz tampaknya menjadi sesuatu yang sulit untuk memisahkan karena ternayata Indonesia memiliki kisah cinta yang indah yang telah dirangkum bergenre cukup lama dengan yang satu ini.
Terbukti dengan festival jazz tahunan legendaris diprakarsai oleh sekelompok mahasiswa Universitas Indonesia pada tahun 1976, maka lahirlah sebuah festival yang sampai sekarang dikenal dengan nama Jazz Goes To Campus atau yang biasa dikenal sebagai JGTC. Sejumlah musisi jazz besar Indonesia dan luar negeri telah terlibat dalam festival ini sebagai Idang Rasidji, Barry Likumahua Project, Dwiki Darmawan, Depapepe, Nouvelle vauge dan banyak lagi.
Jakarta International Java Rockin’Land
Siapa bilang Indonesia enggak punya batu festival musik keren dengan pertunjukan dari sejumlah musisi rock lokal dan internasional. Diadakan sejak tahun 2009 lalu, Jakarta Java Rockin’Land Internatonal atau lebih familiar dengan nama Java Rockin’land menjawab keras untuk membawa beberapa nama besar seperti The Cranberry, Smashing Pumpkins, Halloween, 30 Second To Mars, MEW, Mr Big, Stryper, The Vines, Wolfmother, dan juga sejumlah pahlawan rock lokal seperti senyum, The SIGIT, The Brandals, dan banyak lagi untuk bergabung dalam festival .
Kukar Rockin’ Fest
lensaterkini.web.id – Indonesia tidak hanya Jakarta, yup, terdiri dari gugusan pulau-pulau indah di semenanjung Asia, Indonesia memiliki lima pulau besar, salah satunya adalah Kalimantan. Daerah yang paling cepat berkembang setelah Jakarta memiliki festival musik yang enggak bisa dibilang biasa-biasa saja yaitu Kukar Rockin’Fest.
Tidak tanggung-tanggung, festival ini membawa band besar legendaris yaitu Perjanjian. Dari dalam negeri, nama-nama Burgerkill seperti penghentak nada keras, tersenyum, Power Metal siap untuk membuat bidang Panahan Stadion Imbut Aji, Tenggarong, Kalimantan Timur bergetar.
Hammersonic
Tidak berhenti terbatas jazz dan rock, Indonesia juga memiliki festival khusus untuk kepala logam yang enggak kalah keren dibanding negara-negara lain. Festival ini pertama kali diadakan sejak 2012 itu bernama Hammersonic.
Sejak kehadiran tiga tahun lalu, festival musik metal ini pernah diramaikan oleh sejumlah nama besar seperti Kreator, Hatebreed, Bullet For My Valentine, serta tubuh kepala logam lokal, Siksa Kubur, Coil, dan Funeraal Inception. Tahun ini, festival musik metal ini akan digelar di Lapangan D Senayan, Jakarta pada tanggal 27 April. Siapkan nyali Anda.
Djakarta Warehouse Project
lensaterkini.web.id – Bukankah pengetahuan umum jika Indonesia adalah negara yang kaya dengan beragam budaya, serta selera musik juga. Baseball hanyalah soal mengangguk booming tindak distorsi kasar, tetapi juga pilihan untuk menggeleng mengikuti irama rayuan musik tarian khas. festival bernama Djakarta Warehouse Project, atau lebih akrab disebut DWP.
Festival ini menjadi salah satu festival musik dansa terbesar di Asia Tenggara dengan berhasil membawa sejumlah disc jockey kelas seperti Avicii, David Guetta, Zedd, Steve Aoki, dan juga sejumlah DJ lokal seperti Angger Dimas dan lain-lain. Festival itu sendiri menjadi agenda tahunan wajib bagi pecinta musik dansa di Asia untuk menikmati suguhan musik menghancurkan menghilang versi bermasalah musik dansa.

Sumber : http://warbiyasak.com/7-festival-musik-paling-meriah-dan-terbaik-di-indonesia.html

7 Festival Musik Terbesar

Buat yang suka banget sama musik, wajib tahu daftar-daftar festival musik terbesar dan terbaik di dunia ini. Saking seru dan ramainya festival-festival musik ini, enggak jarang banyak orang yang sengaja menggelar tikar bahkan membangun tenda dan tidur di lokasi, lho. Nah, jadi kebayang kan betapa serunya festival-festival musik di berbagai negara ini.

Coachella Festival, Amerika Serikat
Festival musik yang tepatnya diadakan di California ini sukses menarik perhatian penonton setiap tahunnya sebanyak 75 ribu orang. Festival music Coachella ini menampilkan berbagai genre musik, mulai dari yang mainstream sampai musisi-musisi alternatif.

Glastonbury Festival, Inggris
Salah satu festival musik terbesar di Inggris yang berhasil menyedot perhatian 175 ribu penonton untuk satu hari pertunjukan penuh. Sedangkan, festival yang rutin diadakan setiap tahun pada akhir bulan Juni ini diadakan selama tiga hari berturut-turut. Kebayang, kan, betapa hebohnya festival ini. Seru banget kalau bisa terbang ke Inggris dan nonton Glastonbury.

Reading/Leeds Festival, Inggris
Festival musik ini diadakan di dua tempat yaitu di Reading dan Leeds. Di tiap tahunnya, Festival Reading rata-rata berhasil menarik perhatian 87 ribu penonton per hari untuk tiga hari pertunjukan. Sementara Festival Leeds berhasil menarik perhatian 75 ribu per hari untuk tiga hari pertunjukan juga. Reading/Leeds Festival rutin diadakan setiap bulan Agustus.

Sziget Festival, Hungaria
Festival musik ini dimulai pada 1993 tepatnya di Budapest, Hungaria. Sziget Festival yang berlangsung selama enam hari berturut-turut ini juga punya party train sendiri, lho. Party train itu khusus dibuat untuk mempermudah perjalanan para penonton dari Amsterdam menuju Budapest.

Exit Festival, Serbia
Festival musik ini rutin diadakan setiap minggu kedua di bulan Juli. Exit Festival diadakan selama empat hari berturut-turut. Festival ini juga salah satu festival terbesar di dunia yang udah menarik perhatian pengunjung sebanyak 75 ribu per hari.

Fuji Rock Festival, Jepang
Pasti udah enggak asing juga dong dengan musik Jepang yang enak banget? Nah, di Jepang ada festival musik besar yang juga menghadirkan enggak cuma musisi-musisi ternama Jepang tetapi juga internasional. Fuji Rock Festival diadakan selama tiga hari setiap bulan Juli tepatnya di Naeba Ski Resort. Festival ini berhasil menyedot penonton sebanyak 40 ribu orang.

Tomorrowland Festival, Belgia
Ini dia salah satu festival EDM terbesar di dunia. Festival ini diadakan setiap minggu terakhir di bulan Juli di Belgia. Festival ini awalnya diadakan selama dua hari. Tapi pada 2011, karena semakin banyaknya minat para pengunjung, Tomorrowland pun diperbesar menjadi tiga hari berturut-turut.

Sumber : http://kawankumagz.com/Feature/Playground/7-Festival-Musik-Terbesar-Di-Dunia